Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut, Horor Baru Adaptasi dari Podcast Viral 20 Juta Penonton

Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut, Horor Baru Adaptasi dari Podcast Viral 20 Juta Penonton

NexTune - Dunia perfilman horor Indonesia kembali menggeliat lewat kehadiran film terbaru berjudul Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut. Film ini menjadi sorotan karena diadaptasi dari podcast cerita horor viral yang sudah mengumpulkan lebih dari 20 juta penonton di YouTube. Podcast tersebut merupakan hasil karya kolaboratif antara Qwertyping (nama pena dari Teguh Faluvie) dan Prasodjo Muhammad, dua kreator konten cerita horor yang sudah dikenal luas di kalangan penggemar kisah seram tanah air.

Film ini diproduksi oleh Kucing Hitam Pictures dan SPASI Moving Image, dan digarap oleh sutradara Wisnu Surya Pratama, nama yang juga tidak asing di genre serupa. Alih-alih mengadaptasi langsung alur dari podcast yang sudah dikenal, Wisnu memilih untuk menyuguhkan prekuel sebuah latar peristiwa yang menjelaskan asal mula teror yang nantinya berkembang dalam cerita podcast tersebut. Keputusan ini bukan hanya menyegarkan, tetapi juga memberikan ruang bagi penonton baru untuk masuk ke semesta Kampung Jabang Mayit tanpa harus menonton semua episode podcast-nya terlebih dahulu.

Dengan kemasan sinematik yang matang dan atmosfer mencekam yang dibangun perlahan, Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut tak sekadar menumpang popularitas cerita viral. Film ini justru memperluas narasi dan memperdalam tema spiritual, budaya, dan moralitas yang terbungkus dalam suasana mistis desa terpencil.

Weda dan Desa Rangkaspuna: Pelarian yang Berubah Jadi Mimpi Buruk

Film ini berfokus pada karakter Weda, seorang model muda yang sedang berada di puncak ketenaran. Diperankan oleh aktris berbakat Ersya Aurelia, Weda digambarkan sebagai perempuan modern yang kuat namun rapuh setelah kehidupannya porak-poranda akibat skandal besar yang melibatkan kekasihnya, Bagas, yang diperankan oleh Bukie B. Mansyur.

Dalam upaya menghindari sorotan publik dan mencari ketenangan, Bagas membawa Weda pergi dari kota menuju desa kelahirannya, Desa Rangkaspuna. Namun, desa tersebut ternyata bukan tempat yang aman dan menenangkan seperti yang mereka harapkan. Terisolasi, tertutup, dan menyimpan banyak rahasia, desa itu justru membawa Weda dan Bagas pada situasi yang jauh lebih gelap.

Di sanalah mereka bertemu dengan Ni Itoh, seorang perempuan tua yang dikenal masyarakat desa sebagai dukun. Diperankan dengan sangat kuat oleh Atiqah Hasiholan, Ni Itoh menjadi simbol dari sisi gelap desa Rangkaspuna. Ia dingin, kejam, dan misterius tokoh yang memimpin ritual kelam untuk menjaga keseimbangan yang diyakini masyarakat desa. Ritual inilah yang membawa Weda dan Bagas pada keputusan fatal: menggugurkan janin mereka demi memenuhi syarat upacara.

Dari titik ini, film mulai memperlihatkan sisi gelap yang sebenarnya. Keputusan mereka memicu rangkaian kejadian aneh, teror gaib, dan peristiwa penuh kekerasan spiritual yang tak bisa dijelaskan secara logika. Weda mengalami mimpi buruk, mendengar bisikan-bisikan tak kasat mata, bahkan melihat bayangan misterius yang terus mengikutinya. Film ini tidak sekadar menawarkan horor fisik, tapi juga konflik psikologis mendalam: rasa bersalah, ketakutan, dan upaya bertahan hidup dari kutukan yang telah mereka bangkitkan sendiri.

Horor Baru yang Menentang Klise, Hadirkan Visual Cerah yang Menipu

Satu hal yang membuat Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut berbeda dari film horor lokal kebanyakan adalah pendekatannya terhadap suasana dan visual. Jika kebanyakan film horor memilih pencahayaan gelap dan warna-warna suram untuk membangun ketegangan, film ini justru menggunakan visual terang dan kontras cerah untuk memberikan nuansa yang semu dan menipu.

Sutradara Wisnu Surya Pratama secara sadar menghindari cara-cara horor konvensional. Ia tak bergantung pada jump scare, melainkan lebih memilih pendekatan perlahan namun menghantui. Nuansa tenang yang dibangun di awal menjadi alat untuk menyusupkan teror tanpa diduga-duga. Penonton dibuat tidak nyaman oleh hal-hal yang tampaknya biasa: suara angin, sunyi di tengah malam, atau bahkan tatapan penduduk desa yang aneh.

Hal menarik lainnya adalah penggunaan karakter pendukung yang solid. Rachquel Nesia dan Gusty Gaza turut memberikan kontribusi penting sebagai penduduk desa yang memiliki keterkaitan misterius dengan masa lalu Ni Itoh. Tak hanya itu, Nessie Judge, seorang YouTuber horor terkenal di Indonesia, juga tampil sebagai cameo, memberikan kejutan yang disambut antusias oleh penggemarnya. Bahkan, Prasodjo Muhammad sendiri muncul dalam salah satu adegan penting.

Tak pelak, Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut menjadi film horor yang tidak hanya sekadar menakuti, tapi juga memberi ruang pada penonton untuk berpikir dan merenungi konsekuensi dari setiap keputusan tokohnya. Tema seperti pengorbanan, kesetiaan, keputusasaan, dan kutukan spiritual dibungkus dalam cerita yang kuat dan visual yang estetik.

Film ini direncanakan tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 24 Juli 2025, dan telah masuk radar para penggemar film horor sebagai salah satu rilisan paling dinantikan tahun ini.

Artikel Menarik Lainnya